Keempat teman cerita kita hari ini-Tobit, Hana, Tobia dan Sara-sama-sama diselimut satu rasa yang sama: terharu. Rasa haru yang mendera bilik batin mereka, bukan terutama karena lama tidak saling jumpa; tetapi karena mereka ingat kembali betapa kasih Allah benar-benar tinggal tetap dalam kisah hidup mereka. Rasanya tak ada kata yang mampu mengurai hingga selesai letupan rindu-terima kasih-haru-tersanjung, kecuali tangisan dan butiran air mata. Rasanya benar juga kata Joshua Wisenbarker, “Tangisan adalah kata-kata yang tak mampu diucapkan baik oleh mulut maupun ditampilkan oleh hati.” Mari kita belajar untuk menangis. Karena melalui tangisan dan air mata, kita akhirnya sadar betapa rapuh dan tak berdayanya kita di hadapan Allah. Hanya Dia sendiri yang tahu bagaimana menghapus tiap tangisan dan penderitaan kita. Lagi pula, tangisan adalah doa tanpa kata menyapa Allah, sumber kegembiraan dan penghiburan kita. (Tob 11:5-17; Mrk 12:35-37)