Panite-Timor Tengah Selatan-Indonesia. Adalah Prokura Misi Kongregasi menyuntik dana bagi Delegasi Claretian Indonesia-Timor Leste melalui Prokura Misi Delegasinya. Jumlah memang sudah seharusnya tidak perlu diperdebatkan. Rasa kemanusiaanlah yang menggerakkan dana itu tiba di Delegasi. COVID-19 memang bukan berita baru. Satu semester lebih dia menjadi bahan belajar anak-anak manusia. Bahan belajar yang mendatangkan sejumlah rasa iba dan cinta pada kehidupan. Prokura Misi Delegasi yang menerima dana tersebut lalu menggerakkan sayapnya bersama Komunitas SEPEKITA. “Target kita kali ini Panite. Di sana ada Linamnutu yang sekalipun berada di lumbung beras, tetapi umat kita sedang membutuhkan. Karena menggarap sebuah lahan bukanlah alasan memiliki beberapa butir beras. Ada Toineke yang menurut Pastor Paroki Panite, P. Petrus Dami Tasaeb, cmf, adalah tempat yang tidak menanam apalagi memanen. Hujan jarang singgah di sana. Memotong bebak dan dijual pun uangnya tidak seberapa, itu pun jika laku. Ada Pusat Paroki yang tidak semua umatnya mampu. Kita harus ke sana. Bukan saja hanya memberikan sedikit bantuan, tetapi lebih jauh kita hadir dan mendengarkan cerita kehidupan mereka dan memberikan sedikit masukan tentang ‘new normal’ ini”, demikian kata seorang Misionaris.

Tepat pada tanggal 20-21 Juni 2020, kolaborasi ini terjun ke lapangan menjumpai mereka yang membutuhkan. Linamnutu dan Toineke kebagian tanggal 20 sedangkan pusat paroki keesokan harinya. Di Linamnutu (bagian dari Paroki Santa Teresia Kanak-kanak Yesus, Kabupaten Timor Tengah Selatan), sudah menunggu 32 keluarga rentan. Setelah dari sana, tim bergerak semakin ke Timur ke Toineke (juga bagian dari paroki). Di sana sudah menunggu 38 keluarga yang semuanya adalah umat Kapela Toineke. Setelah membahagiakan diri dengan perjalanan kegiatan hari itu, tim beristirahat di pusat paroki dan lalu merencanakan kegiatan keesokan harinya.

Setelah misa bersama umat (di paroki ini sudah diberikan ijinan untuk merayakan Ekaristi bersama umat), tim mulai gerakannya. Dua kelompok dibagi. Satu kempompok adalah 53 keluarga dan kelompok lainnya adalah kelompok anak-anak berjumlah 48 orang anak. “Anak-anak mudah menangkap apa yang disampaikan”, kata seorang anggota komunitas SEPEKITA. Kegiatan berjalan lancar dan terkoordinasi dengan sangat baik. Umat yang dibantu pun merasa sangat berterima kasih. “Pater, terima kasih banyak. Ini sangat membantu saya yang miskin ini”, demikian salah seorang umat memberikan kesan.

Kegiatan ini menginspirasi beberapa pribadi untuk berbagi apa yang mereka miliki melalui jasa dan dana. Sebagian masker yang digunakan dan dibagikan kepada umat adalah bantuan seseorang bernama Pak Piter dan dari KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia).

Adapun informasi isi bingkisan. Bingkisan untuk keluarga: 5 kilogram beras, 5 bungkus mie, 1 renteng ABC Mocca, 250 gram bawang putih, 5 butir telur, rinso cair dan masker. Sedangkan untuk anak-anak berupa: 1 pak biskuit, 6 bungkus minuman Energen, 1 kaleng susu, permen dan masker. Juga diberikan doorprize berupa: 7 buah sling bag, 8 lembar kemeja anak dan 1 tempat madah bhakti.

Masih ada banyak orang baik di dunia ini. Dunia masih adalah tempat yang layak untuk dihuni. Di tengah COVID-19 atau Corona, saya ingat ada DEWA-19 dengan Kirana. Salah satu syairnya, “Tak akan pernah usai cintaku padamu”. Mari memupuk harapan, cinta dan kebahagiaan di tengah situasi sulit ini. Let’s start the revolution from our bed” (P. Gregorius Berthon Mbete, cmf)