Remah Roti-Sabda yang dibagi di meja jamu Sang Guru pada peringatan St. Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja hari ini, mengundang kita sekalian untuk mengkontemplasikan tiga gagasan kecil-sederhana ini: pertama, menjadi murid-murid Kristus yang kredibel; kedua, pertobatan adalah panggilan kemuridan sehari-hari; ketiga, belas kasih-kerahiman Allah adalah jantung sekolah kemuridan Kristiani.

St. Paulus, sebagaimana integritas hidupnya dapat kita selami dalam tenunan kata-kata suratnya kepada umat di Tesalonika hari ini dan terutama hidup dan karya Yesus sendiri menunjukkan karakter seorang pribadi yang kredibel. Menjadi orang yang kredibel merupakan cita-cita dan kerinduan semua insan. St. Agustinus pun, dalam kekelaman anyaman cerita hidupnya, sedang tinggal dalam rindu yang panjang menuju pertobatan dan pembaruan diri. Di ujung gelisah dan rindu panjangnya itu, Agustinus disentuh serta diubah oleh kerahiman Allah yang menyapanya melalui Sabda. Meski demikian, ziarahnya masih tetap panjang, “Gelisah hatiku sebelum beristirahat pada-Mu, bilakah aku akan tiba dan memandang wajah-Mu.” Suatu untaian doa yang tak pernah menemui ujung, saat rindu berjumpa Sang Hidup, menjadi petualangan seluas hidup. Semua itu adalah ziarah menuju mathetes yang kredibel. Mari kita meneruskan petualangan panjang itu.