Menjadi misionaris adalah panggilan dan identitas seorang Claretian. Panggilan dan ikhtiar menganyam identitas tersebut adalah proses yang tak pernah berujung. Inilah kurang lebih cita-cita terdalam dari Program Ongoing Formation bulanan bagi semua anggota Delegasi Indonesia-Timor Leste, agar setiap misionaris selalu merasa berada dalam proses pembentukan yang berkelanjutan dan tidak pernah merasa rampung. Ada kerisauan intelektual, tetapi juga jauh lebih dalam dari itu, ada kegundahan spiritual, lantaran merasa diri belum rampung dan selesai.

Webinar Surat Apostolik Paus Fransiskus, Patris Corde ini adalah salah satu jalan untuk menjawab kerinduan dan kegundahan tersebut. Seminar ongoing formation virtual dengan tema, “Patris Corde dan Relevansinya bagi Misionaris Claretian Indonesia-Timor Leste” pada Senin, 22 Maret 2021 dibawakan oleh P. Kristian Paskalis Cangkung, CMF, dosen di Institute for Consecrated Life in Asia (ICLA), Manila, Filipina; dipandu Fr. Petrus Pit Duka Karwayu, CMF, sebagai moderator. Pater Tian, demikian sapaan akrabnya, membagi paparannya dalam tiga bagian: pertama, St. Yosef dalam Kitab Suci, Sejarah dan Magisterium Gereja; kedua, Surat Apostolik Patris Corde dan ketiga, St. Yosef dan Misionaris Claretian.

Dokumen ini tidak hanya mengundang umat beriman dan para Misionaris Claretian untuk mengenang dan menghormati St. Yosep di tahun istimewa, Tahun Santo Yosep (8 Des 2020 s/d 8 Des 2021) ini, tetapi terutama suatu panggilan untuk menghidupi keutamaan-keutamaan St. Yosep sepanjang menekuni ziarah misioner-kemuridan sehari-hari. Keutamaan-keutamaan St. Yosep, kata Pater pengampuh mata kuliah Sejarah Hidup Bakti dan Sejarah Spiritualitas Kristen ini salah satunya misalnya, “harus melahirkan gaya pastoral baru, yaitu pastoral dengan pola pendekatan, Kedekatan (nearness), perjumpaan (encounter) dan kemurahan hati (mercy). Kedekatan menciptakan persekutuan (komunitas) dan rasa memiliki, serta menciptakan ruang untuk perjumpaan. Kedekatan membangun dialog dan menciptakan budaya perjumpaan (culture of encounter). Kemurahan hati adalah kunci.” Pendekatan pastoral semacam ini meninggalkan pola pastoral lama yang “menjadikan pesan injil sebagai ideologi, eksklusif, fungsionalisme, dan klerikalisme,” demikian tandasnya.

Paparan ini dilengkapi juga dengan beberapa input dan pertanyaan dari peserta webinar, antara lain, P. Agustinus Supur, cmf; P. Viktor Dody S. Sasi, cmf, P. Francisco JB Roca, cmf, P. Yohanes Mangge, cmf dan beberapa peserta lainnya. P. Yohanes DS Jeramu, cmf, Prefek Formasi Delegasi, berterima kasih kepada P. Kristian Paskalis Cangkung, cmf atas presentasi dan refleksi yang sangat dalam dikaitkan dengan ziarah misioner sebagai Misionaris Claretian. Mari kita menjadi misionaris dengan Hati seorang Bapa. Selamat merayakan Tahun Santo Yosep bagi kita sekalian (pfm).