Claretian House, Kupang – Indonesia. Masalah perdaganan manusia saat ini semakin mewabah. Bisnis pereduksian gambar dan rupa Allah menjadi komoditas pasar bebas ini pun memiliki modus operandi yang acapkali imun dari bacaan gelagat dan alat lacak. Paus Fransiskus menyebutnya sebagai “momok yang mengerikan,” tak hanya itu, praktek perdangangan manusia adalah sebuah “wabah yang janggal” dan “luka menganga di tubuh masyarakat zaman ini.” Berbagai upaya telah dilakukan untuk memerangi jaringan gelap ini, mulai dari seruan profetis Gereja hingga ke aksi berkotor tangan di lapangan, namun rantai jaringan ini tak pernah habis diputus.

Dalam ikhtiar untuk terus bergiat memutuskan rantai jaringan gelap ini, Komunitas PIKLA (Peduli Kemanusiaan, Lingkungan Hidup dan Alam Ciptaan – yang merupakan gabungan dari JPIC para Suster PI dan JPIC Claretian), mengadakan Bedah Buku dan Diskusi tentang Arah Pastoral Anti Perdangangan Manusia di Claretian House, Jl. Claret, Matani, Kupang, Senin, 23 September 2019. Hadir dalam diskusi ini narasumber sekaligus editor buku Arah Pastoral Mengenai Perdagangan Manusia, Rm. Adrianus Suyadi, SJ. Menurut Romo yang menangani urusan human trafficking di Asia-Pasifik ini, “perdagangan manusia adalah bentuk bisnis terburuk yang menjadikan manusia seperti barang dan karena itu harus dilawan.”

Diskusi bersama ini dimoderatori oleh P. Selestinus Panggarra, CMF – pemerhati masalah-masalah kemanusiaan. Sr. Laurentia, PI, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih atas kehadiran perwakilan institusi dan komunitas peduli masalah kemanusiaan, antara lain: JPCI Claretian, JPIC Susteran PI, Perwakilan dari GMIT, LSM JRUK, BP3TKI, IRKAK, DISNAKERTRAS, LSM JPIT. Kiranya diskusi ini semakin memperluas wawasan para pemerhati soal-soal kemanusiaan untuk tanggap dan rela berkotor tangan membantu korban serta mengingatkan orang-orang untuk tidak terjerumus ke dalam lingkaran setan ini.