Pater Edu, demikian sapaan akrabnya lahir di Omelda de Jadraque (Guadalajara, Spanyol), pada tanggal 15 Februari 1938, dari pasangan Bapak Eduardo dan Ibu Juana, dengan nama lengkap: Eduardo Monge Garbajosa.

Setelah menyelesaikan masa pendidikan awal, benih panggilan untuk menjadi imam-misionaris berkecambah dalam hatinya. Iapun menanggapi sapaaan Allah yang mengetuk bilik bathinnya ini dengan masuk Seminari Claret di Siguanza Guadalatara, Spanyol.

Keindahan sequela Christi membujuknya untuk masuk dalam keluarga baru hidup bakti di bawah semangat St. Antonius Maria Claret, saat dia mulai menekuni petualangan kemuridan masa novisiat di Teres de Los Caballeros, Spanyol pada tahun 1954, di bawah bimbingan Magister Novis, P. Lucio Rid, cmf. Kerinduan dan komitmennya menjadi misionaris seluas dunia terjawab serta dikukuhkan dalam pengikraran kaul perdananya pada tanggal 16 Juli 1955 di Novisiat Teres de Los Caballeros, Spanyol. Penggabungan sementara bagi Pater yang amat karismatis ini, selalu memiliki intensi kekal, seperti yang selalu ia ajarkan kepada para novisnya dari angkatan ke angkatan.

Tahun-tahun filsafat dan orientasi pastoral dilewatinya di Safra dan Loha, Spanyol. Sedangkan studi teologi ditempuhnya di Kota Abadi, Roma. Pesona sequela Christi merampas seluruh isi hatinya hingga tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menggabungkan secara kekal di dalam Kongregasi Putra-Putra Hati Tak Bernoda Maria (Misionaris Claretian), dalam pengikrarkan kaul kekal pada tanggal 16 Juli 1959 di Teres de Los Caballeros, Spanyol.

Misionaris sederhana dan yang fasih mengkalkulasi angka-angka ini ditahbiskan menjadi diakon pada tanggal 23 Februari 1963 di Roma. Tujuh bulan kemudian, tepatnya pada tanggal 21 September 1963 ia ditahbiskan menjadi imam juga di Kota Abadi, Roma oleh Kardinal Arcadio Larraona, cmf. Ia sesungguhnya saksi sejarah aggionarmento, saat Gereja membuka jendela ke dunia luar dan modern yang baru setahun gendangnya ditabuh.

Sesudah ditahbiskan, ia kembali ke Spanyol dan bertugas di rumah formasi Lota, Spanyol dari tahun 1963-1966. Rupanya darah sebagai formator mengalir deras dalam dirinya hingga dia ditugaskan kembali di salah satu rumah formasi lain, Zafra, Spanyol dari tahun 1966-1969.

Menjadi Misionaris adalah panggilannya. Cita-cita untuk meneruskan cerita hidup Sang Guru mulai dari “Yerusalem sampai ke ujung bumi”(cf. Kis 1:8), terjawab saat dia diutus ke Asia dan menjadi Pastor Paroki Katedral San Isabela, Basilan, Filipina dari tahun 1970-1975. Baginya, menjadi misionaris, tidak saja mistik dan profetik tetapi juga inklusif. Karena itu sejak tahun 1975-1992, ia bekerja melayani orang-orang Islam di Pulau Basilan, Filipina, pulau dengan tantangan keamanan yang sangat ditakuti oleh banyak orang, terutama dengan geriliawan Abu Sayafnya. Tetapi kisah itu adalah bagian dari profetisme yang mesti ia hidupi.

Ternyata Basilan, bukan merupakan akhir dari petualangan kemuridan-misionernya. Pada tahun 1992 ia diutus ke Indonesia untuk memulai misi baru di tanah Fohorem, Timor Timur saat itu. Ia berkarya di Timor Timur (sekarang Timor Leste) sejak tahun 1992 sampai dengan tahun 1999, dengan macam-macam tugas dan tanggung jawab yang ia emban: pastor paroki, magister novis, koodinator proyek Misi Claretian, ekonom. Meski banyaknya tugas yang diemban, tetapi ia dapat melaksanakannya dengan baik dan tak pernah menunjukkan rasa lelah.

Setelah Timor Timur berpisah dari Indonesia pada tahun 1999, Pater Edu menjadi magister novis paling lama dalam sejarah Delegasi Indonesia-Timor Leste. Rumah Novisiat Claret Benlutu, Soe adalah komunitas kecintaanya. Di bukit Nunuh Amasat inilah, misionaris tak kenal lelah ini membentuk para misionaris muda untuk menjadi Claretian yang baik, sambil tetap melayani Delegasi sebagai ekonom dan keberpihakannya pada orang-orang kecil melalui program-program pertanian, perternakan, di Timor Leste: Fohorem, Bobonaro, Salele dan sekitarnya.

Pada Desember 2008, ketika sedang mengikuti pertemuan para formator bersama P. Mathew Vattamattam, cmf (sekarang Pater General CMF), di Seminari Hati Maria Kupang, Pater Edu tiba-tiba jatuh. Kami segera melakukan pertolongan pertama dan menghantarnya ke RSU Kupang. Dokter mendiagnosanya ada sesuatu dalam syaraf kepalanya. Tetapi ia bergeming. “Saya tidak sakit,” demikian katanya. Misionaris kadang banyak melupakan dirinya sendiri. Sejak saat itu kesehatannya mulai menurun.

Demi alasan pengobatan dan pemulihan yang lebih optimal, Pater Edu diusulkan untuk kembali ke Spanyol. Satu keputusan yang tentunya sangat sulit ia jalani karena kecintaannya kepada tanah misi, Delegasi Indonesia-Timor Leste, tetapi ketaatan misionernya meluluhkan rasa cintanya ini. Iapun kembali ke tanah asalnya, Spanyol pada tahun 2010.

Meskipun kesehatannya kurang baik, ia tetap menerima penugasannya sebagai anggota komunitas Claretian di Cordoba, Spanyol. Setiap kali ada Misionaris Claretian dari Delegasi Indonesia-Timor Leste yang datang ke Spanyol untuk mengikuti program-program pembaruan spiritual, Pater Edu, rela berkereta berkilo-kilo hanya untuk datang bertemu dan bercerita dengan fasih dalam Bahasa Indonesia, tentang sapi perah di Benlutu atau pohon Kabesak yang rindang di bukit Nunuh Amasat; tetapi di atas semua itu beliau datang untuk mendengar kisah bagaimana benih Misionaris Claretian di bumi Indonesia dan Timor Leste merambat seluas dunia.

Pada tanggal 9 Juli 2019, Sang Khalik menjemputnya ke keabadian di Cordoba, Spanyol. Ia telah merampungkan seluruh tenunan kisah Misionarisnya. Ia telah menjadi Misionaris sampai akhir. Kematian adalah jalan pulang sesudah merampungkan seluruh anyaman kisah kemuridan-misioner sebagai Claretian. Selamat jalan Pater. Doakanlah kami, Kongregasi dan Delegasi Indonesia-Timor Leste. (pfm)